loading...

IBU, BAPAK STOOOOOOP"!! JANGAN PERNAH KATAKAN 8 HAL INI PADA ANAK..? BERBAHAYA, BISA MENGGANGGU PENCERNAAN OTAK ANAK ANDA..!!! {{{TOLONG BANTU SEBAR LUASKAN}}}.


Anak yaitu karunia terindah yang diberbagi oleh Allah pada tiap-tiap orangtua, jadi setiap orangtua menginginkan anak nya sukses dan sukses dalam melalui kenasiban baik didunia dan di akhirat. Seseorang bunda yaitu pendidik pertama dan mutlak untuk anak-anaknya, oleh karenanya, sebagai bunda kami perlu mengupgrade diri setiap hari agar dapat mendidik anak-anak kami sesuai sama jaman dimana mereka nasib.

“Didiklah anak-anakmu, sebab mereka akan nasib pada jaman yang tidak sama juga dengan jamanmu, ” sekian pesan Amirul Mu'minin, Khalifah Umar bin Khaththab. Pesan yang sungguh pendek dan gampang diingat.

Satu diantara tutorial mendidik anak tentu saja melalui penghubung lisan, sayangnya… tidak sedikit orang-tua terlebih ibu, yang belum mengerti utamanya melindungi kalimat di depan anak, sebab dapat punya pengaruh besar pada perubahan diri, psikologis, dan rencana diri anak.




Di bawah ini, 8 aspek yang baiknya tidak disebutkan pada anak, terlebih umur sampai dengan tujuh th. :

1. Memberbagi Pernyataan Negatif mengenai Diri Anak

“Kamu anak yang pelit! ”

“Kamu pemalas! ”

“Kamu gendut! ”

“Kamu nakal! ”

Jenis pernyataan seperti itu dapat menyakiti perasaan anak-anak. Mereka akan jadi seperti yang orangtua mereka katakan. Sungguh beresiko, mengingat kalimat seseorang bunda dapat bermakna doa untuk anak-anaknya.

Demikian sebaliknya, katakanlah beberapa hal positif pada anak. Jika anak terima kwalitas kurang baik, janganlah menyampaikan, “Kamu demikian bodoh! ” ; Katakan suatu hal yang lain. Sebagai contoh, katakanlah, “Apabila anda belajar tambah baik, anda akan peroleh kwalitas yang tambah baik dari pada ini sebab anda sesungguhnya yaitu anak pandai. ” Tidakkah kalimat seperti ini akan lebih menentramkan hati anak kita?

2. Jangan katakan “Jangan Ganggu, Bunda Sibuk! ”

Hal semacam ini nampaknya seperti aspek yang normal. Seseorang bunda repot memasak di tempat tinggalnya. Dengan kata lain bapak repot membaca berita hebat di koran. Dengan kata lain mungkin saja juga meneruskan pekerjaan yang dibawa dari kantor. Lantas ia mengunci diri di kamarnya. Mendadak anak datang dan memohon dianya untuk satu pertolongan. Dalam kondisi yang ketat, orangtua dapat berteriak pada anak itu, “Jangan ganggu saya! Saya repot! ”
Baca Juga : Berikut Amalan di Hari Jum’at

Menurut Suzette Haden Elgin PhD., penulis yang juga seseorang pelatih bela diri verbal diambil dari parenting. com, kalau jika orangtua melakukan tindakan seperti itu, anak-anak mungkin saja terasa tidak bermakna sebab jika mereka memohon suatu hal pada orangtua mereka, mereka akan dikabarhu untuk pergi.

Bayangkan… Jika sikap seperti itu diaplikasikan pada anak-anak kita, jadi sampai mereka tumbuh dewasa, besar kemungkinan mereka akan terasa tidak ada fungsinya berkata dengan orang-tua.

Di sisi lain, Suzette merekomendasikan kalau jika dapat dibuktikan tengah sangat repot, coba alihkan perhatian anak-anak untuk lakukan aktivitas lain sebelumnya kami membantu mereka. Umpama, jika mereka memohon pertolongan dalam lakukan pekerjaan tempat tinggal mereka dan kondisinya kami tengah sangat repot, mintalah mereka untuk beraktivitas lain terlebih dulu seperti lihat TV. Lantas lalu, datanglah pada mereka untuk membantu, seandainya masalah itu tidak sangat lama.

3. Jangan katakan “Jangan Menangis! ”

Punyai urusan dengan anak-anak yang berkelahi dengan kawan-kawan mereka dengan kata lain terasa sedih sebab perlakuan spesifik harus dikerjakan lewat cara bijaksana. Tidak perlu untuk memarahi dengan kata lain memohon anak-anak anda untuk tidak cengeng. Tidak sedikit anak yang alami aspek itu, orangtua menyampaikan pada mereka, “Jangan cengeng! ”, “Jangan sedih! ”, “Jangan takut! ”

Menurut Debbie Glasser, seseorang psikolog anak, menyampaikan kalimat itu akan mengajarkan anak-anak kalau rasa sedih yaitu suatu hal aspek yang tidak umum, kalau menangis tidaklah aspek yang baik, sedang menangis sendiri yaitu ekspresi dari emosi spesifik yang tiap-tiap manusia punyai.

Oleh karenanya, untuk mengatasi masalah ini, akan tambah baik untuk memohon


anak-anak mengulas apa yang membikin mereka sedih. Jika mereka terasa diperlakukan tidak adil oleh kawan-kawan mereka, terangkan pada mereka kalau tingkah laku kawan-kawan mereka yaitu tidak


baik.

Dengan memberbagi mereka fotoan perasaan yang mereka rasakan, orangtua telah memberbagi mereka pelajaran empati. Anak-anak yang menangis akan selekasnya hentikan dengan kata lain sekurang-kurangnya kurangi tangisan mereka.
4. Jangan Membanding-bandingkan Anak

“Lihatlah kakakmu, dianya dapat mengerjakannya dengan


cepat. Kenapa anda tidak dapat mengerjakannya juga? ”

“Kawanmu dapat mengfoto dengan keren, mengapa anda tidak? ”

“Dulu saat kecil bunda dapat begini demikian, saat anda tidak dapat?! ”

Perbandingan cuma akan membikin anak anda terasa bimbang dan jadi tidak lebih percaya diri. Anak-anak bahkan juga mungkin saja membenci orangtua mereka sebab mereka teratur peroleh perlakuan kurang baik dari perbandingan itu (pada kakak, adik, dengan kata lain anak-anak lain), sedang perubahan tiap-tiap anak tidak sama.

Dari pada memperbandingkan anak-anak, bunda baiknya membantu untuk merampungkan persoalannya. Umpama, saat anak alami masalah kenakan pakaian mereka sesaat saudara mereka dapat mengerjakannya lebih cepat, orangtua harus membantu mereka untuk mengerjakannya lewat cara benar.

5. Jangan katakan “Tunggu Ayah Pulang ya! Biarkan kamu dihukum ayah”

Ada saatnya seseorang bunda ada dirumah berbarengan anak-anak mereka namun tanpa ada ayahnya. Saat anak-anak lakukan kekeliruan, bunda tidak selekasnya memkabarhu anak-anak tentang kekeliruan yang mereka bikin. Si bunda cuma menyampaikan, “Tunggu sampai ayahmu pulang. ” Ini bermakna menantikan sampai ayahnya yang akan menghukum kelak.

Tunda menyampaikan kekeliruan cuma akan memperkurang baik kondisi. Ada peluang kalau saat seseorang bunda bercerita kembali kekeliruan yang dikerjakan anak-anak mereka, bunda jadi membesar-besarkan jadi anak-anak terima hukuman yang kian lebih sewajibnya.

Ada peluang juga orangtua jadi lupa kekeliruan anak-anak mereka, jadi kekeliruan yang sewajibnya dikoreksi terlewatkan. Oleh karenanya, akan tambah baik untuk tidak tunda dalam mengoreksi kekeliruan yang dikerjakan anak-anak sebelumnya jadi lupa sekalipun, serta

6. Jangan Terlalu mudah serta berlebihan memberi pujian

Rupanya, memberbagi pujian dengan gampang juga bukanlah aspek yang baik. Memberbagi pujian dengan gampang akan tampak “terjangkau”. Oleh karenanya jika seseorang anak lakukan suatu hal yang simpel, tidak perlu memberikan pujian pada dengan “Luar Umum! Luar Umum! ” Sebab anak lewat cara alami akan mengetahui beberapa hal yang dianya kerjakan dengan bebrapa umum saja dengan kata lain mengagumkan.

Yang perlu di perhatikan juga, pujilah sikap anak kita, dan janganlah memberikan pujian pada dianya dengan kata lain hasil kerjakanannya. Seumpamanya ia memperoleh hasil keren di sekolah, pujilah “Alhamdulillaah, Bunda bangga dengan usaha keras anda jadi anda memperoleh kwalitas baik! ”

Jika kami memberikan pujian pada hasil yang dikerjakan anak dan bukanlah sikapnya, begitu mungkin saja anak kami akan fokus pada hasil dan tidak perduli dengan sikap/ciri-ciri yang baik, umpama… untuk memperoleh kwalitas ujian keren, anak akan ikhlas mencontek dengan kata lain ajukan pertanyaan pada kawan saat ujian.

7. Jangan Katakan “Kamu Rutin…” alias “Kamu tak pernah…”

Jangan sampai melemparkan kalimat dengan “Kamu rutin…. ” dengan kata lain “Kamu tidak pernah…”. Dapat dibuktikan, kalimat ini terkadang refleks segera terucap oleh orang-tua, namun jauhilah penggunaan kalimat ini.

“Hati-hati, ke-2 kalimat itu ada arti di dalamnya. Didalam pernyataan “Kamu rutin…” dan “Kamu tidak pernah” yaitu label yang dapat menempel selama-lamanya didalam diri anak, ” ucap Jenn Berman PhD, seseorang psikoterapis.

Berman mengungkap, ke-2 pernyataan yang sering dilontarkan oleh orangtua ini akan membuat kepribadian anak. Anak-anak akan jadi seperti apa yang disebutkan pada dianya. Apabila orang-tua menyampaikan sang anak teratur lupa menelepon ke tempat tinggal jika pulang telat, jadi ia akan jadi anak yang tidak pernah menelepon ke tempat tinggal.

“Sebaliknya, bertanyalah pada anak tentang apa yang dapat orang-tua kerjakan untuk membantu dianya mengubah kesukaannya. Umpama, ‘Ibu cermati anda seringkali lupa mengangkat pulang buku pelajaran ke tempat tinggal. Apa yang dapat Bunda bantu agar anda ingat untuk mengangkat bukumu pulang? ’. Pernyataan seperti itu akan membikin anak terasa terbantu dan enjoy, ” terang dr Berman.

8. Jangan katakan “Bukan begitu caranya, sini biar bunda saja! ”

Pernyataan yang lain yang harus kami jauhi yaitu “Bukan demikian langkahnya. Sini, agar Bunda saja. ” Umumnya orang-tua keluarkan pernyataan ini jika mereka memohon anak membantu satu pekerjaan, namun anak tidak mengerjakannya seperti yang diinginkan. Dr Berman menyampaikan, orangtua harus hindari pernyataan ini.

“Ini satu kekeliruan, sebab ia (anak) jadi tidak belajar bagaimana langkahnya. Dari pada menyampaikan sekian, tambah baik bunda lakukan langkah kolaboratif dengan mengundang anak lakukan pekerjaan itu berbarengan sembari bunda mengulas bagaimana tutorial mengerjakannya, ” anjuran dr Berman.

Semoga bermanfa'at
silahkan di share agar para orang tua tau..betapa pentingnya kecerdasan anak-anak mereka....

http://www.segala-informasi.com/2016/04/ibu-bapak-stoooooop-jangan-pernah.htm